
Sobat sekalian. Dalam hidup sehari-hari ada istilah yang sering kita pakai, yaitu putra mahkota. Baik di dalam keluarga, sekolah, lembaga. Kata putra mahkota tentulah menunjuk pada seseorang yang punya posisi yang amat khusus. Ada yang menjadi putra mahkota karena dari sononya memang begitu. Misalnya putra raja yang sulung. Ia nanti akan menjadi penerus tahta. Tetapi ada juga putra mahkota yang dipunyai karena amat disayangi oleh yang lain.
Hari-hari ini kita sedang mendekati Sang Putra Mahkota. Bukan karena ia akan mewarisi tahta singgasana. Juga bukan karena ia amat disayang oleh yang lain. Beliau ini menjadi putra mahkota karena seluruh perbuatanNya menunjukkan siapa yang mau Ia wartakan. Ia-lah Yesus sendiri. Seluruh Kitab Suci menyebutNya sebagai Putra Allah. Sebutan ini bukan karena Ia akan menjadi raja maha kuasa, atau bukan karena ia disayang oleh banyak orang.
Seluruh hidup Yesus memperlihatkan siapakah Allah Bapa itu sebenarnya. Dan demi cintaNya kepada BapaNya, Ia tidak segan-segan menyerahkan diriNya. Ternyata Putra mahkota itu justru menderita, sengsara dan wafat di kayu salib.
Refleksi: Bagi siapakah kita ini berkurban habis-habisan? Demi siapakah kita ini mau menguras tenaga, uang, kehormatan, waktu? Marilah kita berpaling pada Yesus Sang Putra Mahkota itu, yang bersedia memberikan segala-galanya demi Bapa yang dicintaiNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar