Sabtu, 28 Maret 2009

Dari mana petaka itu?


Baru saja kita dikagetkan oleh jebolnya tanggul Situ Gintung Tangerang. Akibatnya, sekitar jam 02:00 dimana orang masih tidur, banjir tiba-tiba datang melanda. Siapapun orangnya, pasti tidak akan siap. Banyak korban tak terhindarkan. Sampai catatan ini ditulis, tim SAR masih mencari korban.
Dalam situasi panik, sedih, kacau orang dengan mudah mencari siapa yang salah, siapa yang harus bertanggungjawab terhadap musibah seperti itu. Sikap menyalahkan memang akan mudah terucap dalam situasi kesedihan itu. Salah satu pejabat mengingatkan bahwa jangan-jangan ini merupakan suatu peringatan cara hidup kita, "terbiasa membiarkan apa saja yang sebetulnya bisa membahayakan keselamatan orang".
Musibah ini menjadi ajakan, marilah kita mulai peduli akan hal-hal yang bisa membahayakan keselamatan orang. Sikap membiarkan pastilah bukan bijaksana.

Kamis, 26 Maret 2009

Bahaya terbesar

Kamis malam, 25 Maret lalu Solo raya tiba-tiba dikagetkan oleh datangnya hujan deras yang disertai halilintar dan kilat menyala-nyala. Akibatnya bisa ditebak, banjir di sana-sini, sejumlah pohon tumbang, listrik mati. Gambar di samping menunjukkan seorang manusia yang mengamati mengapa banjir terus datang ke wilayahnya.
Dalam situasi seperti ini, sangat mudahlah orang merasa bersalah. Ada apa dengan hidupku, koq bencana datang bertubi-tubi. Apa yang salah? Jangan-jangan bencana ini menjadi simbol tiadanya cinta kepadaku? Memang sulit menghubungkan adanya bencana beruntun dengan adanya cinta Tuhan. Namun kesimpulan bahwa kaitan antara bencana beruntun terkait tiadanya cinta Tuhan tidak serta merta diterima begitu saja.
Hakekat dari Tuhan adalah cintaNya. Ia sendiri adalah kasih dan cinta itu. Bahaya terbesar dari hidup ini adalah bila orang merasa tidak dicintai oleh Tuhan. Cinta Tuhan jauh melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dan pikirkan. Melepaskan cinta Tuhan dalam hidup akan mengakibatkan segala cinta lain akan lepas juga. Orang akan jatuh ke dalam arogansi, merasa mampu hidup tanpa cinta.

REFLEKSI: masihkah kita mampu melihat kenyataan pahit dalam hidup ini sebagai bagian dari pendidikan Allah untuk kita masing-masing.

Rabu, 25 Maret 2009

Allah pun bertobat


Bagaimana mungkin Allah bertobat? Apa itu berarti Allah berbuat salah? Itulah makna bacaan hari ini. Saat Allah melihat umat yang dikasihiNya menyembah patung lembu emas, Ia pun marah besar. Dengan kekuatan marahNya, ia berjanji akan menghancurkan umatNya yang tidak tahu malu itu.
Namun demikian, Musa dengan pelan-pelan memohon dan mengingatkanNya. Bukankah Ia telah berjanji kepada Abraham, Ishak dan Yakub akan melindungi umatNya sampai akhir zaman. Dengan kesadaran diri sebagai manusia pendosa, Musa mengetuk hati Tuhan yang penuh belas kasih dan murah hati. Musa sadar betul betapa keras dan dekilnya umat Israel. Ternyata oleh doa Musa, Allah pun bertobat dan membatalkan hukumanNya.
Masa prapaska memang berfokus pada Tuhan, yang terus memberi kesempatan kepada manusia untuk berubah. Allah pun berubah bila manusia itu berubah. Allah begitu bergembira bila ada umatnya yang bertobat. Sikap hati Allah inilah yang hendaknya terus menjadi fokus perhatian kita.

REFLEKSI: kemanakah arah pertobatan kita? Jangan-jangan kesulitan pertobatan muncul karena fokusnya yang salah, yaitu diri sendiri yang rapuh. Bisakah pertobatan kita diarahkan demi kebahagiaanNya.

Selasa, 24 Maret 2009

Belajar dari Maria


Siapapun dari kita ingin menjadi orang besar, dikenang banyak orang, bahkan menjadi referensi bagi orang lain. Untuk menjadi seperti itu, tidak jarang orang mengembangkan seluruh potensinya, belajar dengan nilai IP tinggi, membuat karya monumental, dst.
Marilah kita belajar dari Bunda Maria. Dalam dunia politik ataupun akademis, nama Bunda Maria tak pernah disebut. Namun kalau orang bicara mengenai spiritualitas, sejarah gereja, pastilah nama Maria selalu disebut. Apakah itu terjadi karena Maria telah melakukan hal-hal yang besar, monumental ? Kalau ya, apakah itu?
Kebesaran Maria kiranya tidak terletak pada karya-karya monumentalnya, melainkan justru pada sikap hatinya yang tertuang dalam jawabannya kepada warta malaikat Gabriel, "Aku ini hanyalah hamba Tuhan. Terjadilan padaku menurut kehendakMu". Maria menjadi orang besar, karena keputusannya yang berani, menundukkan dirinya di hadapan kehendak Allah yang diyakininya sebagai penyelamat. Di tengah kekecilan dan kesederhanaannya, Maria menyediakan diri untuk menjadi bunda Penebus. Itulah kebesaran Maria.
REFLEKSI. Bila kita mengembangkan seluruh potensi dan bakat kita, demi siapakah semuanya itu? Bisakah di tengah arus kompetisi yang kuat, kita masih berkata "Aku ini hanyalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu?

Sabtu, 21 Maret 2009

Cinta yang mendahului


Salah satu problem hidup yang dihadapi oleh setiap insan adalah keyakinan bahwa dirinya adalah makhluk yang dicinta. Jauh lebih mudah mencari data-data dimana seseorang tidak dicintai. Data ini bisa berasal dari orang tua, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, warna suku, daerah, dll.
Namun kiranya tugas kita yang paling pokok bukanlah mencari data kebencitan, melainkan justru menemukan kenyataan dan bukti cinta dari orang lain. Bahwa kita masih hidup dengan segala kesulitannya, menunjukkan bahwa kita masih dicintai. Dan sumber kehidupan ini adalah Sang Hidup itu sendiri. Kalau orang masih hidup, pertanda bahwa Sang Hidup masih memberi kesempatan kita untuk hidup.
Injil hari ini yang berkisah mengenai percakapan antara Yesus dan Nikodemus, menunjukkan bahwa Allah telah mendahului dan terus menerus mencintai manusia. Bahkan Ia memberikan PutraNya sendiri yang terkasih untuk manusia. Dari awal sampai akhir, Allah menunjukkan cintaNya yang mendahului segala cinta kita. Kalau orang sulit menemukan dirinya dicintai, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan cintaNya kepada setiap dari kita.

Kapan harus berubah?


Untuk menuju kesempurnaan, setiap orang perlu berubah. Tetapi kapan seseorang harus berubah? Setelah ada korban? Setelah ada pengalaman terbentur kesana-kemari? Saat orang takut akan hukuman api neraka? Semua hal ini memang bisa menjadi alasan untuk berubah. Tetapi kiranya satu-satunya alasan yang terbaik untuk berubah adalah karena cinta akan Tuhan.
Ad Maiorem Dei Gloriam, demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan. Inilah yang diwariskan Ignasius dalam Latihan Rohani. Inilah alasan setiap orang untuk berubah. Marilah kita memohon rahmat untuk mencintaiNya.