Minggu, 17 Mei 2009

Sahabat sejati


Yesus bersabda: "Engkau kusebut sebagai sahabat, dan bukan hamba. Sebab aku telah menceritakan segala-galanya apa yang kudapat dari Bapa. Tinggallah dalam kasih".
Berbahagialah kita semua yang boleh punya sahabat Yesus. Ialah sahabat sejati yang memberikan segala-galanya sampai akhir.

Sabtu, 04 April 2009

Penyerahan diri yang total


Pada waktu di sungai Yordan, Ia menyerahkan diri untuk dibabtis.
Saat pesta di Kana, Ia menyerahkan diri pada kehendak IbuNya.
Saat jumpa dengan orang yang kerasukan setan, Ia memberikan komitmenNya.
Waktu jumpa dengan perempuan berzinah, Ia menyerahkan diri pada kemarahan massa.
Sewaktu jumpa dengan ibu yang sakit pendarahan, Ia menyerahkan pakaianNya.
Saat jumpa dengan orang buta, Ia menyediakan tanganNya.
Saat jumpa dengan Zakeus, Ia menyediakan waktuNya.
Saat jumpa dengan janda yang kehilangan anakNya, Ia memberikan harapan.
Saat berjumpa dengan pemuda kaya, Ia memberikan kebebasanNya
Saat bertemu dengan Saulus yang mau menganiaya pengikutNya, Ia memberikan hatiNya.
Saat jumpa dengan Pilatus, Ia menyerahkan nasibNya.
Saat bersama para rasul, Ia memberikan visi dan misiNya.
Saat berjumpa ahli Taurat dan orang Farisi, Ia memberikan pikiranNya
Akhirnya saat bertemu dengan para prajurit, Ia memberikan tubuhNya, untuk disiksa, dianiaya dan disalib.
Tiada yang tersisa.
Semuanya telah Ia serahkan kepada kita semua.

Jumat, 03 April 2009

Putra mahkota yang sengsara


Sobat sekalian. Dalam hidup sehari-hari ada istilah yang sering kita pakai, yaitu putra mahkota. Baik di dalam keluarga, sekolah, lembaga. Kata putra mahkota tentulah menunjuk pada seseorang yang punya posisi yang amat khusus. Ada yang menjadi putra mahkota karena dari sononya memang begitu. Misalnya putra raja yang sulung. Ia nanti akan menjadi penerus tahta. Tetapi ada juga putra mahkota yang dipunyai karena amat disayangi oleh yang lain.
Hari-hari ini kita sedang mendekati Sang Putra Mahkota. Bukan karena ia akan mewarisi tahta singgasana. Juga bukan karena ia amat disayang oleh yang lain. Beliau ini menjadi putra mahkota karena seluruh perbuatanNya menunjukkan siapa yang mau Ia wartakan. Ia-lah Yesus sendiri. Seluruh Kitab Suci menyebutNya sebagai Putra Allah. Sebutan ini bukan karena Ia akan menjadi raja maha kuasa, atau bukan karena ia disayang oleh banyak orang.
Seluruh hidup Yesus memperlihatkan siapakah Allah Bapa itu sebenarnya. Dan demi cintaNya kepada BapaNya, Ia tidak segan-segan menyerahkan diriNya. Ternyata Putra mahkota itu justru menderita, sengsara dan wafat di kayu salib.

Refleksi: Bagi siapakah kita ini berkurban habis-habisan? Demi siapakah kita ini mau menguras tenaga, uang, kehormatan, waktu? Marilah kita berpaling pada Yesus Sang Putra Mahkota itu, yang bersedia memberikan segala-galanya demi Bapa yang dicintaiNya.

Sabtu, 28 Maret 2009

Dari mana petaka itu?


Baru saja kita dikagetkan oleh jebolnya tanggul Situ Gintung Tangerang. Akibatnya, sekitar jam 02:00 dimana orang masih tidur, banjir tiba-tiba datang melanda. Siapapun orangnya, pasti tidak akan siap. Banyak korban tak terhindarkan. Sampai catatan ini ditulis, tim SAR masih mencari korban.
Dalam situasi panik, sedih, kacau orang dengan mudah mencari siapa yang salah, siapa yang harus bertanggungjawab terhadap musibah seperti itu. Sikap menyalahkan memang akan mudah terucap dalam situasi kesedihan itu. Salah satu pejabat mengingatkan bahwa jangan-jangan ini merupakan suatu peringatan cara hidup kita, "terbiasa membiarkan apa saja yang sebetulnya bisa membahayakan keselamatan orang".
Musibah ini menjadi ajakan, marilah kita mulai peduli akan hal-hal yang bisa membahayakan keselamatan orang. Sikap membiarkan pastilah bukan bijaksana.

Kamis, 26 Maret 2009

Bahaya terbesar

Kamis malam, 25 Maret lalu Solo raya tiba-tiba dikagetkan oleh datangnya hujan deras yang disertai halilintar dan kilat menyala-nyala. Akibatnya bisa ditebak, banjir di sana-sini, sejumlah pohon tumbang, listrik mati. Gambar di samping menunjukkan seorang manusia yang mengamati mengapa banjir terus datang ke wilayahnya.
Dalam situasi seperti ini, sangat mudahlah orang merasa bersalah. Ada apa dengan hidupku, koq bencana datang bertubi-tubi. Apa yang salah? Jangan-jangan bencana ini menjadi simbol tiadanya cinta kepadaku? Memang sulit menghubungkan adanya bencana beruntun dengan adanya cinta Tuhan. Namun kesimpulan bahwa kaitan antara bencana beruntun terkait tiadanya cinta Tuhan tidak serta merta diterima begitu saja.
Hakekat dari Tuhan adalah cintaNya. Ia sendiri adalah kasih dan cinta itu. Bahaya terbesar dari hidup ini adalah bila orang merasa tidak dicintai oleh Tuhan. Cinta Tuhan jauh melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dan pikirkan. Melepaskan cinta Tuhan dalam hidup akan mengakibatkan segala cinta lain akan lepas juga. Orang akan jatuh ke dalam arogansi, merasa mampu hidup tanpa cinta.

REFLEKSI: masihkah kita mampu melihat kenyataan pahit dalam hidup ini sebagai bagian dari pendidikan Allah untuk kita masing-masing.

Rabu, 25 Maret 2009

Allah pun bertobat


Bagaimana mungkin Allah bertobat? Apa itu berarti Allah berbuat salah? Itulah makna bacaan hari ini. Saat Allah melihat umat yang dikasihiNya menyembah patung lembu emas, Ia pun marah besar. Dengan kekuatan marahNya, ia berjanji akan menghancurkan umatNya yang tidak tahu malu itu.
Namun demikian, Musa dengan pelan-pelan memohon dan mengingatkanNya. Bukankah Ia telah berjanji kepada Abraham, Ishak dan Yakub akan melindungi umatNya sampai akhir zaman. Dengan kesadaran diri sebagai manusia pendosa, Musa mengetuk hati Tuhan yang penuh belas kasih dan murah hati. Musa sadar betul betapa keras dan dekilnya umat Israel. Ternyata oleh doa Musa, Allah pun bertobat dan membatalkan hukumanNya.
Masa prapaska memang berfokus pada Tuhan, yang terus memberi kesempatan kepada manusia untuk berubah. Allah pun berubah bila manusia itu berubah. Allah begitu bergembira bila ada umatnya yang bertobat. Sikap hati Allah inilah yang hendaknya terus menjadi fokus perhatian kita.

REFLEKSI: kemanakah arah pertobatan kita? Jangan-jangan kesulitan pertobatan muncul karena fokusnya yang salah, yaitu diri sendiri yang rapuh. Bisakah pertobatan kita diarahkan demi kebahagiaanNya.

Selasa, 24 Maret 2009

Belajar dari Maria


Siapapun dari kita ingin menjadi orang besar, dikenang banyak orang, bahkan menjadi referensi bagi orang lain. Untuk menjadi seperti itu, tidak jarang orang mengembangkan seluruh potensinya, belajar dengan nilai IP tinggi, membuat karya monumental, dst.
Marilah kita belajar dari Bunda Maria. Dalam dunia politik ataupun akademis, nama Bunda Maria tak pernah disebut. Namun kalau orang bicara mengenai spiritualitas, sejarah gereja, pastilah nama Maria selalu disebut. Apakah itu terjadi karena Maria telah melakukan hal-hal yang besar, monumental ? Kalau ya, apakah itu?
Kebesaran Maria kiranya tidak terletak pada karya-karya monumentalnya, melainkan justru pada sikap hatinya yang tertuang dalam jawabannya kepada warta malaikat Gabriel, "Aku ini hanyalah hamba Tuhan. Terjadilan padaku menurut kehendakMu". Maria menjadi orang besar, karena keputusannya yang berani, menundukkan dirinya di hadapan kehendak Allah yang diyakininya sebagai penyelamat. Di tengah kekecilan dan kesederhanaannya, Maria menyediakan diri untuk menjadi bunda Penebus. Itulah kebesaran Maria.
REFLEKSI. Bila kita mengembangkan seluruh potensi dan bakat kita, demi siapakah semuanya itu? Bisakah di tengah arus kompetisi yang kuat, kita masih berkata "Aku ini hanyalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu?