
Siapapun dari kita ingin menjadi orang besar, dikenang banyak orang, bahkan menjadi referensi bagi orang lain. Untuk menjadi seperti itu, tidak jarang orang mengembangkan seluruh potensinya, belajar dengan nilai IP tinggi, membuat karya monumental, dst.
Marilah kita belajar dari Bunda Maria. Dalam dunia politik ataupun akademis, nama Bunda Maria tak pernah disebut. Namun kalau orang bicara mengenai spiritualitas, sejarah gereja, pastilah nama Maria selalu disebut. Apakah itu terjadi karena Maria telah melakukan hal-hal yang besar, monumental ? Kalau ya, apakah itu?
Kebesaran Maria kiranya tidak terletak pada karya-karya monumentalnya, melainkan justru pada sikap hatinya yang tertuang dalam jawabannya kepada warta malaikat Gabriel, "Aku ini hanyalah hamba Tuhan. Terjadilan padaku menurut kehendakMu". Maria menjadi orang besar, karena keputusannya yang berani, menundukkan dirinya di hadapan kehendak Allah yang diyakininya sebagai penyelamat. Di tengah kekecilan dan kesederhanaannya, Maria menyediakan diri untuk menjadi bunda Penebus. Itulah kebesaran Maria.
REFLEKSI. Bila kita mengembangkan seluruh potensi dan bakat kita, demi siapakah semuanya itu? Bisakah di tengah arus kompetisi yang kuat, kita masih berkata "Aku ini hanyalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar