Kamis, 26 Maret 2009

Bahaya terbesar

Kamis malam, 25 Maret lalu Solo raya tiba-tiba dikagetkan oleh datangnya hujan deras yang disertai halilintar dan kilat menyala-nyala. Akibatnya bisa ditebak, banjir di sana-sini, sejumlah pohon tumbang, listrik mati. Gambar di samping menunjukkan seorang manusia yang mengamati mengapa banjir terus datang ke wilayahnya.
Dalam situasi seperti ini, sangat mudahlah orang merasa bersalah. Ada apa dengan hidupku, koq bencana datang bertubi-tubi. Apa yang salah? Jangan-jangan bencana ini menjadi simbol tiadanya cinta kepadaku? Memang sulit menghubungkan adanya bencana beruntun dengan adanya cinta Tuhan. Namun kesimpulan bahwa kaitan antara bencana beruntun terkait tiadanya cinta Tuhan tidak serta merta diterima begitu saja.
Hakekat dari Tuhan adalah cintaNya. Ia sendiri adalah kasih dan cinta itu. Bahaya terbesar dari hidup ini adalah bila orang merasa tidak dicintai oleh Tuhan. Cinta Tuhan jauh melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dan pikirkan. Melepaskan cinta Tuhan dalam hidup akan mengakibatkan segala cinta lain akan lepas juga. Orang akan jatuh ke dalam arogansi, merasa mampu hidup tanpa cinta.

REFLEKSI: masihkah kita mampu melihat kenyataan pahit dalam hidup ini sebagai bagian dari pendidikan Allah untuk kita masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar